Zakat Fitrah Online menjadi Pilihan Di Tengah Wabah Corona

Pemerintah dan seluruh Ormas Islam sudah memperingatkan agar masyarakat berzakat menggunakan layanan zakat online. Hal itu untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 saat penyerahan zakat secara langsung.

lantas bagaimana hukum membayar Zakat Fitrah secara Online. sebelum membahas lebih jauh alangkah lebih baiknya pebahasan ini dimulai dari apa pengertian Zakat dalam islam.

 

Kata zakat berasal dari bahasa Arab زكاة atau zakah yang memiliki arti bersih, suci, subur, berkat, dan berkembang. Menurut istilah, zakat adalah sebagian harta yang harus dikeluarkan oleh umat Muslim dan dikasihkan kepada golongan orang yang berhak menjadi miliknya sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan. Pengertian zakat sendiri tertulis dalam QS Al-Baqarah 2:43,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya: “dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”

Ayat di atas menjelaskan bahwa mereka yang beragama Islam lalu mengerjakan salat secara benar dan menunaikan zakat, mereka termasuk dalam orang-orang yang ruku’, yakni tergolong sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Zakat sendiri dibagi menjadi 2 yaitu Zakat Fitrah dan Zakat Maal.

ZAKAT FITRAH 

Zakat Fitrah ialah zakat diri yang diwajibkan atas diri setiap individu lelaki dan perempuan muslim yang berkemampuan dengan syarat-syarat yang ditetapkan. Kata Fitrah yang ada merujuk pada keadaan manusia saat baru diciptakan sehingga dengan mengeluarkan zakat ini manusia dengan izin Allah akan kembali fitrah.

ZAKAT MAAL

Zakat Maal (bahasa Arab: الزكاة المال‎, transliterasi: zakah māl) adalah zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara syarak.

Perlu kita tau bahwa Unsur yang paling penting dalam berzakat adalah si pemberi zakat, harta zakat dan kemudian  si penerima zakat itu sendiri. Seorang muzakki haruslah orang yang memiliki harta mencapai nishab atau memenuhi kriteria wajib zakat. Sedangkan harta zakat adalah harta yang diperbolehkan sebagai zakat. Sementara penerima zakat haruslah orang yang benar-benar berhak menerima zakat. jadi mau online atau offline zakat itu asal ke tiga unsur tadi terpenuhi insya’allah zakatnya masih sesuai dengan  syarat sah berzakat.

Zakat yang kita tunaikan baik itu online maupun offline sebaiknya diniat kan dengan sungguh-sungguh dan hanya mengharapkan keridhoan Allah SWT.

lantas siapa saja sih yang berhak menerima zakat itu ?

ada 8 golongan yang berhak menerima Zakat .

Allah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 60 yang menerangkan tentang beberapa pihak yang berhak memperoleh zakat .

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’alaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-taubah:60)

Dari keterangan ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa 8 golongan yang mempunyai hak untuk menerima zakat adalah orang fakir, orang miskin, pengurus zakat (amil), mualaf, memerdekakan budak, orang yang berutang, orang yang sedang berjuang di jalan Allah (sabilillah), dan orang yang sedang dalam perjalanan (ibnu sabil). Orang yang fakir sendiri merupakan orang yang tidak mempunyai harta dan tenaga untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Sedangkan orang miskin adalah orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan serba kekurangan. Di dalam terselenggaranya zakat, pasti ada panitia yang akan mengurusi proses terselenggaranya zakat tersebut. Pengurus zakat yang tugasnya mengumpulkan dan juga membagikan zakat juga merupakan golongan yang berhak menerima zakat tersebut. Berikutnya, mualaf, orang yang ada harapan untuk masuk Islam atau orang yang baru masuk Islam yang kemungkinan imannya masih lemah juga termasuk yang berhak menerima zakat.

Riqab atau budak atau hamba sahaya, pada praktiknya dewasa ini sudah tidak ada lagi. Namun, ini juga bisa dikaitkan dengan upaya melepaskan para muslim yang ditawan oleh pihak lain. Sementara orang berutang yang dimaksud sebagai penerima zakat adalah orang yang berutang bukan untuk kepentingan maksiat dan tidak mampu membayarnya lagi. Artinya, jika ada orang berutang tetapi bisa membayar dengan kekayaan atau harta yang dimiliki, ia tidak berhak diberi zakat.

Sabilillah merupakan orang yang berjuang untuk kepentingan Islam dan para muslimin. Dalam hal ini, di masa modern, sabilillah tidak dapat dimaknai hanya semata-mata sebagai orang yang berperang secara fisik, tetapi juga mereka yang mengerjakan kebajikan untuk kemaslahatan umat.

Ibnu sabil sendiri yang dimaksud yaitu orang yang sedang dalam perjalanan dan bukan yang mengalami kesengsaraan dalam perjalanan dengan tujuan bermaksiat. Zakat kepada golongan ini bertujuan agar menghindarkan mereka dari sengsara ketika tidak berada di kampung halaman. Zakat fitrah wajib dibayarkan maksimal sebelum dimulainya salat Idulfitri pada 1 Syawal tiap tahunnya dan tanda berakhirnya bulan Ramadhan sebagai pembersih dari hal-hal yang mengotori puasa. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah “telah mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan diri orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia dan kotor serta untuk memberi makan kepada orangorang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum salat id, maka itu adalah zakat yang diterima, dan barang siapa yang menunaikannya sesudah salat id, maka itu hanyalah sekadar sedekah.” (H.R. Abu Dawud).

 

Apabila anda ingin menunaikan zakat, Klik Link di bawah ini :

https://cahayaquran.net/zakat-2/

 

 
[lsd_zakat_list]