Memantaskan Diri Meraih Kekuasaan

Assalamualaikum semua,
Semoga masih diberikan oleh Allah SWT nikmat sehat dan nikmat ilmu. pada kesempatan kali ini admin cahaya quran ingin membahas tentang sosok pemimpin yang layak menjadi pemimpin. menjadi seorang pemimpin terbaik harus menjadi contoh bagi rakyat yang dipimpinnya oleh karena itu dibutuhkan kerja keras / memantaskan diri meraih kekuasaan.

Menjadi Pemimpin sama dengan menjadi contoh bagi orang yang dipiimpinnya

Allah SWT berfirman :

(79) وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا (80

(81) وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tabahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah; “ ya tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi engkau kekuasaan yang menolong.” Dan katakanlah :  ”yang benar telah datang dan yang bathil pasti lenyap”. Sesungguhnya yang bathl itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al Isra’ : 79-81).

Beberapa ulasan ayat terkait Shalat malam :

Pertama               : Bahwa ibadah malam khususnya shalat malam (Qiyamul Lail) itu kedudukannya menempati rangking 2 setelah shalat wajib. Sebagaimana dikuatkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang artinya : “Seutama – utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat Sunnah di waktu malam.” (HR. Muslim)

Kedua                   : Shalat malam merupakan ciri khas hamba-hamba Allah SWT yang shalih. Perhatikan firman Allah SWT berikut :

 

لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ

يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Mereka itu tidak sama ; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka bersujud (Shalat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar serta bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajiikan; mereka iitu termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Ali Imran : 113-114)

Ketiga                   : Shalat Malam akan memberi dampak semakin berkualitasnya ilmu dan ma’rifatnya (pengenalannya) kepada Allah SWT serta sangat efektif dalam membangun keyakinan hati terhadap Hari Akhirat. Sehingga seseorang yang rajin Qiyamul Lail akan semakin rindu kepada Allah SWT.

Hal ini sebagaimana Allah SWT isyaratkan di dalam Surat Az Zumar.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musrik yang lebih beruntung ) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya ? Katakanlah : ”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang – orang yang tidak mengetahui ? “ Sesungguhnya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. “ ( QS. Az Zumar : 9 )

Keempat              : Shalat Malam merupakan suatu amal utama yang mampu mengangkat derajat dan kemuliaan seorang hamba di hadapan Allah SWT dan juga di hadapan makhluknya. Mengapa demikian ?

Karena pada saat seseorang bangun unuk Qiyamul Lail , manusia dalam kondisi harus berjuang keras untuk mengalahkan dirinya sendiri. Ia harus mengalah karena jatah waktu istirahat malamnya (tidurnya) terkurangi. Ia harus berjuang melawan rasa kantuknya yang seringkali dihilangkan karena tumpukan lelah setelah beraktivitas di siang hari . ia juga harus membuang jauh-jauh rasa malasnya demi memenuhi kerinduannya ruhnya terhadap Rabb yang dicintainya yakni Allah SWT.

Dan tentu masih banyak faktor penghalang dan pemberat seseorang untu melaksanakan ibadah utama Qiyamul Lail ini. Janji pengangkatan derajat bagi seorang yang istiqomah dalam menegakkan Qiyamul Lail ini disebutkan oelh Allah SWT dalam Surat Al Isra’ :

(79) وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا (80

“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu ; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah : “Ya tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku kekuasaan yang menolong. ”” (QS Al isra’ : 79-80).

Kelima                  : Shalat Malam merupakan amal shallih yang akan membawa dampak langsung sebagai penguat jiwa sekaligus sebagai upaya manusia untuk memancing pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Terutama bagi mereka yang gigih berjuang menantang kokohnya kebhatilan agar dapat ditumbangkan.

Berikut Allah SWT sebutkan dalam Surat Muzzammil :

(7) إِنَّ لَكَ فِي النَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلًا

(8) وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

“Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). (Maka) Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepadanya dengan sepenuh hati .” (QS. Al Muzammil : 7-8).

Keenam               : Shalat Malam juga menjadi pengawal diri kita. Saat orang-orang kafir murka, terganggu karena “Tempat kotornya” dibersihkan oleh umat yang berjuang menegakkan islam. Di dalam Surat Al Muzammil Allah SWT berfirman :

“Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakana dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah aku (saja) bertindak terhadap orang – orang yang mendustakan itu, orang – orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. “ (QS. Al Muzammil : 10-11).

Ketujuh                : Shalat Malam merupakan solusi bagi umat yang mengeluhkan atas sikap pongahnya penguasa yang zalim. Agar Allah mengalihkan kekuasaan kepada hamba-nya yang shalih. Sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Isra’ :

“Dan katakanlah : “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-mu kekuasaan yang dapat menolong(Ku). ” (QS. Al Isra’ : 80).

Kedelapan           : Shalat Malam merupakan senjata seorang Mukmin saat berkeinginan dan berjuang keras memproses tumbangnya kebhatilan di atas bumi ini.

“Dan Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap ”. Sesungguhnya yang bathill itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al Isra’ : 81)

Kesembilan         : Shalat Malam itu memuliakan setiap pelakunya. Betapa pun manusia sejagad ingin menghinakannya. Allah SWT berfirman di dalam surat Al Furqan :

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba – hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang – orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang – orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqan : 63).

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk tuhan mereka.” (QS. Al Furqan : 64).

Kesepuluh           : Shalat Malam itu, begitu pentingnya, sehingga usahakan agar kita jangan sampai meninggalkannya. Betapa pun keadaan kita sedang sakit atau sedang safar dan bahkan sedang dalam keadaan berjihad mengangkat senjata. Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an :

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang – orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka dia memberikan keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada dantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahhyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah  pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah ; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Muzammil : 20)

Wahai mukminin, demikianlah Allah SWT telah memuliakan hamba-hambanya yang selalu menyerahkan diri saat manusia pada umumnya terlelap dalam nikmatnya tidur. Karena sejatinya ibadurrahman (hamba-hamba Allah SWT yang spesial) justru merasa bahwa berlelah-lelah melaksanakan Qiyamul Lail adalah lebih nikmat daripada tidur malamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *