Jangan Sampai Awam Terhadap Al Qur’an

Assalamualaikum semua,

kali ini admin cahaya Quran akan membahas sedikit artikel tentang “jangan sampai awam terhadap Al Qur’an”.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul : “ Ya tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an itu sesuatu yang diacuhkan.”” (QS. Al Furqon : 30)

Al Qur’an diturunkan kepada setiap orang beriman, agar menjadi kabar gembira dan rahmat bagi mereka . “Al Qur’an adalah petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang beriman. ” (QS. Luqman : 3).

Bagaimana mungkin seorang dapat merasakan efek rahmat dan rasa bahagia terhadap Al Qur’an yang merupakan karunia besar bagi Allah SWT kepada hamba-hambanya , Jika ia tidak memiliki pengetahuan dan rasa kenal sedikitpun dengan Al Qur’an.

Allah SWT menyebut orang-orang yang awam terhadap Al Qur’an sebagai manusia yang ummiyyun istilah sekarangnya “ gaptek” , jadi gaptek terhadap wahyu Allah SWT. Kalau seseorang gaptek teknologi saja sudah terkesan negative (karena ia tentu tidak dapat mengakses informasi-informasi yang penting dan berguna), maka bagaimana dengan mereka yang “gaptek” terhadap wahyu Allah SWT.

Tentu terancam kerugian yang sangat besar bahkan di dunia dan di akhirat , karena ia tidak memahami pokok-pokok hukum berupa perintah dan larangan –nya yang member petunjuk baginya untuk menjalani roda kehidupan dunia dengan selamat dan bahagia, sedangkan di akhirat tentu akan mendapat azab karena semasa di dunia ia tidak mengindahkan hukum-hukum Allah SWT yang terdapat di dalam Al Qur’an dikarenakan gapteknya terhadap Al – Qur’an. Allah  SWT berfirman :

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan diantara mereka ada yang ummiyyun tidak mengetahui Al kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al Baqarah : 78)

Mengapa seseorang bisa mengalami keawaman terhadap Al Qur’an , padahal daya dukung untuk mempelajarinya sangat cukup. Kalau saja ia memiliki minat dan keinginan untuk mempelajari pun juga memiliki banyak peluang. Bahkan, ada sebagian orang sudah puas dan merasa sudah cukup jika dirinya hanya mengetahui bahwa Al Qur’an itu adalah kitab sucinya.

Mereka juga mengetahui bahwa Al Qur’an merupakan pedoman hidup manusia, tetapi toh juga mereka tetap saja enggan (tidak punya minat) untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuannya terhadap kandungan Al Qur’an. Lantas apa kiranya yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi ? Jawaban utamanya adalah karena minimnya atau tipisnya imannya kepada Allah SWT.

Kepada seseorang yang minim keimanannya terhadap dirinya, maka Allah SWT akan membuatnya kurang berminat dan tidak memiliki rasa penasaran terhadap  Al Qur’an sehingga tidak tergerak dan tidak juga memiliki minat dan semangat untuk mempelajarinya. Bahkan ketika diingatkan agar ia mempelajari Al Qur’an, maka selalu memiliki jawaban klasik, yakni dngan berlindung dibalik alasan tidak ada waktu . Dengan demikian , akhirnya di sepanjang hayatnya , ia akan menjadi awam terhadap Al Qur’an.

Wahai kaum muslimin , ketahuilah bahwa sesungguhnya jika kita mengaku mencintai Allah SWT maka secara otomatis harusnya kita memiliki rasa cinta terhadap kalam-nya; Al Qur’anul kariim, begitu juga sebaliknya. Apabila kita telah membuktikan cinta kita terhadap kalam-nya, maka InsyaAllah dapat dipastikan   bahwa kita telah memiliki rasa cinta kepada Allah SWT. Imam Al Banna rahimahullah dalam kitabnya Majmu’atur Rasail mengungkapkan keprihatinannya terhadap keawaman umat terhadap Al Qur’an :

“aku tidak melihat sesuatu yang hilang padahal ia semacam manuskrip yang harus dipelihara. Begitu juga menjadi sesuatu yang diacuhkan pada hal ia sesuatu yang harus diperhatikan. Itulah Al Qur’an yang ada di tengah-tengah umat ini.”

Saudaraku, mari segera kita tanyakan pada diri kita masing-masing, seberapa besar dan seberapa luas keawaman kita terhadap Al Qur’an. Beberapa di antara pertanyaan yang dapat menjadi tolok ukur seberapa jauh kita telah mengenal Al Qur’an serta memiliki kedekatan dengan Al Qur’an :

  1. Seberapa besar prosentase pemahaman kita terhadap setiap surat yang terdapat di dalam Al Qur’an ?
  2. Berapa ayat yang sudah bisa kita terjemahkan ?
  3. Berapa ayat yang sudah kita ketahui sebab nuzulnya (sebab turunnya) ?

Tentu masih banyak indicator yang lain. Silahkan menggali sendiri hal-hal apa yang sekiranya bisa menjadi bahan kesimpulan bahwa ternyata pengetahuan kita tentang Al Qur’an demikian dan demikian.

Dari upaya evaluasi di atas InsyaAllah akan dapat kita simpulkan seberapa jauh cinta kita kepada Kalamullah, otomatis kita juga bisa membaca, selama hidup kita ini, sejauh mana rasa cinta kita kepada Allah SWT. Suatu hal yang perlu kita fahami adalah kesadaran diri atas keawaman kita terhadap Al Qur’an, dapat menjadi pintu gerbang (starting point) untuk memunculkan semangat baru dalam upaya menggali pemahaman terhadap Al Qur’an, sehingga InsyaAllah kita tidak lagi termasuk orang yang awam terhadap Al Qur’an. Adapun untuk mengikis habis keawaman umat terhadap Al Qur’an, Imam Al Bana memberikan solusi sebagai berikut :

  1. Intensif bersama Al Qur’an. Berinteraksilah dengan Al Qur’an dalam jumlah waktu sebanyak- banyaknya.
  2. Perbanyaklah melakukan upaya pendekatan diri kepada Allah SWT melalui Al Qur’an. Apakah dengan membacanya, mempelajarinya, merenungkan (mentadaburi) maknanya, mengamalkannya ataupun mendakwahkan serta membelanya saat ada yang tidak memuliakannya.
  3. Jadikan Al Qur’an sebagai sumber ilmu dan hukum dalam  semua sisi kehidupan kita. Apakah saat kita hendak melaksanakan ibadah mahdah maupun yang ghairu mahdah, atau saat kita berbisnis, hubungan interaksi social kita , bahkan hingga dalam urusan politik. Pendek kata, semua aspek kehidupan yang kita jalani dalam kehidupan ini haruslah kita landaskan Al Qur’an.

Hal di atas merupakan suatu konsekuensi logis ketika kita telah mengakui dan meyakininya bahwa Al Qur’an adalah kitab suci kita serta petunjuk hidup manusia, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak menjadikan Al Qur’an sebagai dasar dan nilai-nilai seluruh aspek kehidupan kita. Bahkan akan menjadi sangat naïf jika kita mengangkat atau menjadikan hukum di luar Al Qur’an dalam menetapkan keputusan terhadap suatu hal.

Demikianlah penjelasan dari kami . semoga kita para kaum muslimin bisa mengambil pelajaran, Wallahu’alam bisshawab ..

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

baca juga artikel menarik kami yang lainnya :

Bersyukur Adalah Solusi

Jadilah Prajurit Allah SWT

Menjadikan Al Quran sebagai sahabat di dunia

Keberkahan Dalam Mempelajari Al Qur’an

Bahagia Bersama Al Qur’an Harus Diraih dengan “Sengsara” (Mujadah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *