Jadilah Prajurit Allah SWT

Assalamualaikum ..

Sahabat Cahaya Qur’an. semoga tetap dilimpahkan kesehatan bagi kalian semua dan semoga dimudahkan urusannya oleh Allah SWT. Aamiin…

pada kesempatan minggu lalu kita sudah membahas tentang ukhuwah kita harus menjadi motivasi ber-Al Qur’an. kali ini admin cahaya Qur’an akan menjelaskan tentang “Jadilah Prajurit Allah SWT”… simak ya penjelasan dari kami..

seperti biasa kita mulai dahulu dari firman Allah SWT dalam Al Qur’an di Surat Al Imron : 144.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur

Ayat di atas diturunkan saat Perang Uhud sedang berkecambuk. ketika itu beredar informasi yang luas di kalangan para sahabat , bahwa Rasulullah SAW telah terbunuh. Salah satu pelajaran yang bisa diambil hikmahnya adalah ketika orang-orang beriman mengetahui pemimpin mereka telah wafat, maka mereka dilarang murtad dan berpaling dari ajaran yang yang telah ditinggalkan oleh pemimpinnya.

Loyalitas mukmin bukan kepada personal atau figur pribadi sang pemimpin tetapi kepada nilai-nilai yang diyakininya shahih, bersumber dari ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ayat ini Allah SWT juga menegaskan bahwa jika kemurtadan itu tetap terjadi, maka sungguh hal itu tidak akan pernah mengurangi kemuliaan Allah SWT. Adapun bagi mukmin yang tetap istiqomah di jalan-nya bahkan ketika kondisi yang sangat terjepit sedang menimpanya. Dalam ayat 144 ini Allah SWT juga menjelaskan bagaimana seharusnya seorang mukmin mengaplikasikan sikap loyalitas yang benar dan tidak menyimpang dari manhaj. Maka harus diperhatikan beberapa prinsip berikut :

Pertama :

Loyalitas kepada pemimpin harus fokus pada isi ajarannya, bukan kepada figur pribadinya. Hal ini sangatpenting dalam menjaga istiqomah dalam dakwah sehingga terus menghasilkan energi yang besar dalam mengemban amanah dengan berbagai macam tantangannya. Bersama Allah Al Qowiy (maha kuat) akan menjadi sumber kekuatan.

untuk dapat mengetahui atau mendeteksi kredibilitas seorang pemimpin, maka setiap mukmin harus kembali mempelajari isi Al Qur’an dan sunnah agar memahami isinya, sehingga memiliki wawasan yang benar yang dengannya akan dapat membedakan yang haq dan bathil. itulah yang dicontohkan kaum hawariyyin, pendukung setia Nabi Isa AS yang Allah SWT sebutkan dalam firman-Nya :

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.

Mari kita perhatikan firman Allah SWT diatas , yakni saat nabi Isa AS bertanya, “Siapakah penolong-penolongku dalam membela Allah SWT ?” Maka dengan sigap kaum Hawariyyin menjawab: “Kamilah penolong -penolong Allah SWT.” Mereka (kaum hawariyyin itu) tidak menjawab : “Kamilah penolong-penolongmu”. Dari dialog (jawaban kaum hawariyyin) tersebut tergambar bahwa loyalitas yang benar adalah harus fokus ditujukan kepada sumber yang haq yakni Allah SWT. Namun demikian , bukan berarti kita meremehkan seorang pemimpin. seorang mukmin harus selalu mendukung dan memuliakan seorang pemimpin selama ia taat kepada Allah SWT dan Rasul-nya.

Kedua :

Seorang mukmin harus terus berusaha menghiasi dirinya dengan akhlaq karimah , sehingga ketika dia menjadi seorang pemimpin maka tidak timbul sifat sombong atau benih-benih penyakit hati yang berupa dorongan atau ambisi agar dirinya menjadi pusat perhatian yang berlebihan hingga membuat umat terpikat pada pesona pribadinya , bukan kepada nilai-nilai (syari’at) yang diajarkannya. Akhlaq karimah juga akan membatasi seseorang untuk melakukan penyelewengan amanah kepemimpinannya, ia sadar bahwa tugasnya adalah menuntun umat untuk tunduk kepada ajaran Allah SWT dengan menampilkan sosok yang berakhlaq mulia, sehingga dirinya layak untuk menjadi teladan saat mengajak orang lain untuk tunduk kepada Allah SWT.

Ketiga :

Ayat 144 ini juga mengisyaratkan pembelajaran yang ingin diberikan oleh Allah SWT kepada para sahabat, apa yang harus mereka lakukan saat tersebar berita Rasulullah SAW telah wafat. Kecintaan para sahabat yang sangat kuat terhadap Rasulullah SAW membuat mereka lupa bahwa beliau juga seorang manusia biasa yang pasti akan mengalami kematian . Pada saat Rasulullah SAW dipanggil Allah SWT , awalnya para sahabat sulit menerima kenyataan bahwa Rasulullah SAW telah benar-benar wafat, termasuk Umar bin khattab. namun akhirnya Umar disadarkan oleh Abu Bakar dengan membacakannya ayat 144 surat al imron ini.

Di sinilah pentingnya menghadirkan ayat dalam kaitan suatu peristiwa akan cepat memahamkan ayat Al Qur’an dengan efektif dan tepat. Abu Bakar, saat itu juga menambahkan penjelasan yang intinya bahwa barangsiapa yang menyembah muhammad, sekarang dia sudah wafat , dan barangsiapa yang menyembah Allah SWT , maka Allah SWT itu Maha hidup dan tidak akan mati. Saat keadaan masih serba dirundung kesedihan itu, Abu Bakar segera diangkat menjadi khalifah, dan agenda pertamanya adalah memerangi orang-orang yang murtad karena meninggalnya Rasulullah SAW.

Keempat :

Jika terjadi situasi guncangan pada diri kita atau umat, maka ayat Al imron 144 ini harus menjadi nasihat yang melekat di hati untuk tetap teguh secara benar dalam bersikap loyal hanya kepada Allah SWT serta istiqomah dalam membela agama-nya.

Demikianlah penjelasan ayat al qur’an . semoga kita para kaum muslimin bisa mengambil pelajaran, Wallahu’alam bisshawab ..

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

baca juga artikel menarik kami yang lainnya :

10 Alasan orang kafir dilarang memimpin

Menjadikan Al Quran sebagai sahabat di dunia

Keberkahan Dalam Mempelajari Al Qur’an

Bahagia Bersama Al Qur’an Harus Diraih dengan “Sengsara” (Mujadah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *