Bahagia Bersama Al Qur’an Harus Diraih dengan “Sengsara” (Mujadah)

Assalamualaikum ..

Sahabat Cahaya Qur’an. semoga tetap dilimpahkan kesehatan bagi kalian semua dan semoga dimudahkan urusannya oleh Allah SWT. Aamiin…

kali ini Admin Cahaya Quran akan bercerita tentang mencapai kebahagiaan dengan al Qur’an harus diraih dengan sengsara. Allah SWT berfirman :

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu tidak menjadi susah” (QS. Thahaa : 2)

ayat diatas pengertian secara implisitnya bahwa Al Qur’an diturunkan di muka bumi ini adalah agar manusia dapat meraih kebahagiaan. Mengapa Allah SWT tidak menyebut langsung dengan ungkapan : “Kami turunkan Al Qur’an ini agar kamu bahagia?” Selain menunjukkan keindahan, kesantunan dan cita rasa yang sangat tinggi dari bahasa Al Qur’an.

ayat di atas mengandung makna yang sangat relevan dengan kenyataan kehidupan manusia yang telah mengenal Al Qur’an dan mencintai Al Qur’an. Siapa saja yang ingin bahagia bersama Al Qur’an , maka dirinya harus siap untuk “Sengsara” (Mujadah) dengan Al Qur’an.

Sengsara di dunia bahagia di akhirat

untuk dapat meraih bahagia bersama Al Qur’an, maka seorang Mukmin harus :

  • “Sengsara” secara mental dan fisik. Dalam arti harus tahan dalam kondisi yang orang lain bisa jadi akan merasa sulit dan sengsara dalam menjalaninya. karena bukan sesuatu yang ringan dan mudah menegakkan disiplin diri saat harus membacanya, menghafalnya, muraja’ah (mengulang hafalannya), mengkaji tafsir dan seterusnya. Semua bentuk interaksi tersebut harus bersifat permanen ditetapkan sebagai agenda rutin disepanjang hidupnya.
  • “Sengsara” karena secara total otomatis harus siap melaksanakan semua syariat Allah SWT. Tanpa kesiapan melaksanakan syariat Allah SWT seperti shalat 5 waktu, shaum (puasa), zakat, dan sebagainya maka seseorang tidak akan mungkin dapat menikmati Al Qur’an.
  • “Sengsara” dalam menjaga diri dari maksiat. Diantara perjuangan ruhiyah agar bisa dekat dan merasakan nikmatnya dalam berinteraksi dengan Al Qur’an adalah perjuangan lahir dan batin untuk menghindar dari segala maksiat, baik besar maupun kecil. karena Al Qur’an tidak akan merespon pembacanya yang masih suka melakukan maksiat . Hal ini harus selalu menjadi perhatian yang serius bagi para pemburu kebahagiaan bersama Al Qur’an. bersabar dari berbuat maksiat serta menjaga diri dari segala yang menyeret dirinya dalam kehinaan. karena itu perlu membangun sistem yang mampu menjadi penjaga kesucian dirinya, diantaranya dengan melazimkan istighfar.
  • “Sengsara” dalam menegakkan ibadah Malam. Membangun kebiasaan diri untuk berjaga dimalam hari untuk dzikir dan ibadah kepada Allah SWT tentu merupakan suatu aktivitas yang sangat berat dan menyesengsarakan. hal di atas adalah suatu amal yang sangat dituntut bagi para pemburu kebahagiaan Al Qur’an dan tentu tidak akan pernah menarik bahkan menyengsarakan bagi seseorang tidak mengenal Al Qur’an dan tidak mendambakan terjalinnya kedekatan Al Qur’an, karena itu tidur banyak lebih ia sukai.
  • “Sengsara” dalam melaksanakan isinya. Al Qur’an tidak akan memberikan hasil tadabbur dan inspirasi yang maksimal bagi mereka yang tidak memiliki kesiapan untuk mengamalkan isi dan kandungan (perintah serta larangan) yang ada di dalamnya.
  • “Sengsara” di dalam mendakwahkan dan memperjuangkan Al Qur’an. ketika seorang mencintai Al Qur’an maka Allah SWT akan memberikan ilham kepadanya untuk memiliki dorongan kuat untuk mendakwahkannya. Mendakwahkan baik isi kandungan Al Qur’an, mendakwahkan bagaimana cara membacanya sesuai dengan kaidah yang benar, ataupun mendakwahkannya dalam pengertian syi’ar yang lebih luas lagi, termasuk membelanya ketika ada yang mencelanya. Upaya perjuangan di atas tentu akan diakrabi dengan berbagai rintangan dan kendala. Apalagi saat masyarakat masih sangat minim penerimaannya terhadap Al Qur’an baik secara ruhiyah, jasmaniyah maupun fikriyahnya. Seseorang yang hidupnya tidak akan pernah merasakan Ruh Al Qur’an bersamanya.
  • “Sengsara” dalam istiqomah bersama Al Qur’an. Tanpa azzam untuk istiqomah bersama Al Qur’an, sulit seseorang mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dari segala bentuk interaksinya dengan Al Qur’an. Kebahagiaan bersama Al Qur’an harus diraih dengan perjuangan yang mahal, yang berat, karena itu butuh kesungguhan dan tekad untuk istiqomah. Istiqomah ini akan mudah dilihat saat sang pendamba kebahagiaan itu diuji keimanannya oleh Allah SWT. Apakah ujian yang sifatnya duniawi maupun ujian yang sifatnya membutuhkan keteguhan jiwa dalam mempertahankan keselamatan dan kemuliaan ukhrowinya, misal terkait ujian ibadah.
  • “Sengsara” dalam melaksanakan jihad yang merupakan salah satu perintah yang ada di dalam Al Qur’an. Jihad merupakan perintah yang jelas yang telah disebutkan di dalam Al Qur’an. Untuk melaksanakan perintah jihad sesuai dengan konsep jihad yang dikehendaki Allah SWT bukanlah perkara yang mudah. Sedangkan para pecinta Al Qur’an harus siap melaksanakan perintah jihad sebagai bentuk kepatuhan dan ketundukannya kepada Al Qur’an. adapun mengapa Allah SWT mensyariatkan jihad di dalam Al Qur’an ? Karena tanpa jihad, umat islam tidak akan mendapatkan izzahnya. Inilah jawaban prinsip yang menjadi alasan perintah jihad.
  • “Sengsara” dalam mengorbankan semua yang dicintainya untuk Allah SWT. Aslinya tabiat manusia adalah cinta terhadap harta dan enggan bersusah payah (dalam hal apa saja). Hal ini banyak dibahas oleh Al Qur’an. Kecintaan terhadap harta dan jiwa harus menjadi suatu kewaspadaan bagi para pecinta Al Qur’an jika ingin dirinya senantiasa meraih kebahagiaan bersama Al Qur’an. Karena cinta terhadap keduanya (harta dan jiwa) dapat mengikis bahkan memusnahkan rasa cintanya terhadap Al Qur’an. Oleh karena itu perlu perjuangan jiwa dan raga untuk siap melakukan pengorbanan demi melaksanakan isi Al Qur’an secara seutuhnya. Jauhkan bisikan-bisikan cinta terhadap harta dunia serta siapkan raga untuk bermujahadah bersama Al Qur’an.

Demikianlah kiranya diantara rahasia mengapa Allah SWT ungkapkan dengan kata “لِتَشْقَىٰ – Sengsara” dalam ayat diatas. Namun sungguh Allah SWT menafikkan berbagai bentuk kesengsaraan tersebut di atas, karena hakikatnya Allah SWT tidak pernah menyengsarakan hamba-Nya.

Hal ini terbukti pada para pecinta Al Qur’an yang selalu menjaga kebersamaan dirinya dengan Al Qur’an , mereka nyaris tidak merasakan kesengsaraan tersebut karena sudah tercover oleh dampak kebahagiaan yang langsung Allah SWT anugerahkan ke dalam hatinya baik di dunia dan yang akan disempurnakan – nya di akhirat kelak.

Dalam ayat selanjutnya ayat ke – 3 dari surat Thaha:

إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَىٰ

“melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah SWT).”

Ayat di atas menegaskan fungsi Al Qur’an sebagai tadzkirah (pengingat yang motivasi) bagi orang-orang yang betul – betul ingin mengenal Allah SWT sehingga di dalam jiwanya tumbuh rasa takut yang mendalam (khosy-yah). Fungsi inilah yang akan menimbulkan efek bahagia, tentram dan senang serta cinta kepada Al Qur’an.

Khosy-yah kepada Allah SWT akan semakin hidup di hati seorang mukmin jika ia benar-benar mengenal Allah SWT dengan semua sifat-sifat – Nya dan Maha kuasanya. Hal ini sebagaimana difirmankannya dalam ayat selanjutnya, yakni ayat 4 sampai ayat 8 dari surat Thaha :

تَنزيلا مِمَّنْ خَلَقَ الأرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلا (4) الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (5) لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى (6) وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (7) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ لَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى (8

diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, (yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah,. Yang bersemayam di atas Arasy. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya, dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang barhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al-asma-ul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thaha : 4-8)

Maha benar Allah SWT dengan segala firmannya.

wahai kaum muslimin rahimakumullah, tancapkan dihati tekad untuk menjadi Ahlul Qur’an, Para pecinta yang bersungguh – sungguh menjaga kebersamaan lahir batinnya bersama Al Qur’an akan semakin mengenal Allah SWT . Dengan mengenalnya akan kita temukan kebahagiaan yang sejati.

Demikianlah penjelasan ayat al qur’an .semoga kita para kaum muslimin bisa mengambil pelajaran, Wallahu’alam bisshawab ..

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.

baca juga artikel menarik kami yang lainnya :

10 Alasan orang kafir dilarang memimpin

Menjadikan Al Quran sebagai sahabat di dunia

Menjadi Pembaca Al Qur’an yang Produktif

Keberkahan Dalam Mempelajari Al Qur’an

Berbagi hewan Qurban bersama anak yatim

Mengambil Pelajaran Dari Rakyat Firaun

Sepenggal Ayat Bagi Sang Perindu Surga

Menjauhkan Umat Islam Dari Al Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *